Tuhannya Mengecil
Sunday, September 25, 2011
Hidup adalah pembanding saja, jadi kalau salah
membandingkan, kebahagiaan kita akan hilang. Contoh sederhana adalah
Amri sangat tinggi kalau dibandingkan dengan anak yang usia dua tahun. Tapi
kalau Amri dibandingkan dengan orang yang lebih tinggi, maka Amri akan
menjadi pendek. Begitu juga kulit Amri, akan terlihat putih kalau
dibandingkan dengan beberapa temen dari negara tertentu, namun suatu
ketika rapat dengan beberapa negara tertentu yang kulitnya sangat
putih, maka saat itu Amri terlihat sangat hitam. Bahkan ketika foto
bersama setelah rapat itu, dari semua peserta rapat, Amri paling hitam.
Pada waktu itu, posisi fotonya ditengah, jadi Amri terlihat seperti
tembok pemisah antara blok kanan dan blok kiri.
Begitu juga kehidupan, terutama yang berkaitan
dengan ketenangan hati dalam menghadapi hidup, sangat tergantung pada
bagaimana kita membandingkan. Kalau salah membandingkan, maka siap-siap
saja kita akan tidak pernah bahagia. Kemudian timbul pertanyaan,
”Siapakah pembanding” yang menyebabkan kita akan selalu dalam
ketentraman hati?. Jawabnya sangat sederhana, yaitu: ”Tuhan kita tidak boleh mengecil”.
Maksudnya adalah, meletak Tuhan dalam hati keimanan kita menjadi Tuhan
Maha Besar. Ketika Tuhan, sudah Maha Besar dalam hati kehidupan kita,
maka apun permasalahan kehiduan kita akan menjadi sangat lapang.
Ketika kami kedatangan tamu, kebetulan beliau
penghasilannya sangat banyak dan berlimpah, sebab semua fasilitas
keluarganya tercukupi oleh perusahaan, maka beliau bisa tersenyum
dengan lebar, berjalannya sangat gagah, berbicaranya penuh optimistis
dan lain sebagainya. Kemudian dua tahun berikutnya, perusahaan tempat
dia bekerja bangkrut, sehingga temen saya ini gajinya harus dikurangi
sangat drastis dan bahkan mau dirumahkan, maka saat itu beliau juga
sering kerumah dengan wajah terlihat 10 tahun lebih tua dari usia
sebenarnya. Sejak saat itu, beliau tidak pernah bahagia, tidak pernah
optimis, wajah ketakutan seperti dikejar perampok. Ini terjadi karena
Tuhannya mengecil. Yaitu secara tidak tersadarai, dirinya teracuni oleh
bisikan kehidupan ”kalau penghasilan mengecil, dirinya akan kesulitan
menghadapi hidup”.Padahal, gaji tidak sama dengan rizki.
Seorang kemantin baru, terlihat bahagia karena
melihat pasangannya terlihat tampan dan cantik. Dua-duanya bekerja
dengan penghasilan yang sangat cukup. Lima tahun berikutnya, karir
suami sangat melejit, demi kebaikan perkembangan anak-anaknya, maka
diputuskan pihak istri tidak bekerja. Setelah karir semakin melejit,
dan sering melihat kehidupan lebih luas termasuk banyak wanita karir
yang mengelilingnya, maka godaan setan tidak mampu dia tahan. Mulailah,
membandingkan orang-orang yang disekelilingnya terlihat sangat cantik
dibanding dengan istrinya yang dirumah. Ketika itu, Tuhannya mengecil,
dan selalu membandingkan istrinya dengan orang-orang yang ada
disekelilingnnya. Habislah kebahagiaannya kehiduannya.
Begitu juga sebaliknya, sekarang banyak tren
baru, para istri karir, minta diceraikan oleh suaminya, sebab setelah
dirinya berkarir melejit yang kebetulan pihak suami tidak begitu
melejit dan bahkan penghasilannya berkurang, maka banyak para istri
yang merasa bahwa keluarganya dipimpin oleh seorang suami yang kurang
smart, kurang visioner dan lain sebagainya. Mulai saat itu, banyak
wanita karir yang mulai disibukkan dengan pekerjaan baru, bukan hanya
pergi ke kantor tapi juga pergi ke pengadilan untuk minta cerai. Ini
terjadi karena, Tuhan dalam hatinya sudah mulai mengecil.
Sahabat CyberMQ
Hidup adalah pembanding, kalau salah dalam membandingkan, maka kehidupan kita tidak akan pernah tenteram. Masalah-masalah
kecil akan terlihat sangat besar sebab ”Tuhan dalam hatinya” mulai
mengecil. Namun bagi orang yang meletakkan ”Tuhan dalam hatinya” selalu
Maha Besar, maka permasalahan apapun yang dihadapi dalam kehidupan akan
terlihat sangat kecil. Akibat positifnya, kita akan selalu optimis dalam menghadapi kehidupan, apapun permasalahannya.
Hidup adalah pilihan pembanding, salah
membandingkan siap-siap saja tidak pernah bahagia. Pembanding yang
abadi adalah ”Tuhan Maha Besar”. Berani menghadapi metode pembanding
yang benar !!! Bagaimana pendapat sahabat ???
Masrukhul Amri: Seorang Knowledge Entrepreneur-pengusaha gagasan, bertempat tinggal di hp. 0812-2329518, Aktivitas
sehari-hari sebagai Konsultan Manajemen Stratejik-Alternatif dan
Director The Life University; Reengineering Mindsets – Unlocking
Potential Power. Spesialis konsultasi alternatif di beberapa perusahaan
nasional dan multi nasional MBA-Main
Bersama Amri di CyberMQ dan dosen tamu di beberapa perguruan tinggi di
Bandung dan luar Bandung. Mottonya adalah mari sama-sama belajar
menjadi yang terbaik. Website http://amri.web.id
http:/masamri.multiply.com e-mail : amri{at}mq{dot}
0 komentar:
Post a Comment